Message

Rabu, 08 Desember 2010

Albert Einstein Bioghrapy


Albert Einstein was born at Ulm, in Württemberg, Germany, on March 14, 1879. Six weeks later the family moved to Munich, where he later on began his schooling at the Luitpold Gymnasium. Later, they moved to Italy and Albert continued his education at Aarau, Switzerland and in 1896 he entered the Swiss Federal Polytechnic School in Zurich to be trained as a teacher in physics and mathematics. In 1901, the year he gained his diploma, he acquired Swiss citizenship and, as he was unable to find a teaching post, he accepted a position as technical assistant in the Swiss Patent Office. In 1905 he obtained his doctor's degree.

During his stay at the Patent Office, and in his spare time, he produced much of his remarkable work and in 1908 he was appointed Privatdozent in Berne. In 1909 he became Professor Extraordinary at Zurich, in 1911 Professor of Theoretical Physics at Prague, returning to Zurich in the following year to fill a similar post. In 1914 he was appointed Director of the Kaiser Wilhelm Physical Institute and Professor in the University of Berlin. He became a German citizen in 1914 and remained in Berlin until 1933 when he renounced his citizenship for political reasons and emigrated to America to take the position of Professor of Theoretical Physics at Princeton*. He became a United States citizen in 1940 and retired from his post in 1945.

After World War II, Einstein was a leading figure in the World Government Movement, he was offered the Presidency of the State of Israel, which he declined, and he collaborated with Dr. Chaim Weizmann in establishing the Hebrew University of Jerusalem.

Einstein always appeared to have a clear view of the problems of physics and the determination to solve them. He had a strategy of his own and was able to visualize the main stages on the way to his goal. He regarded his major achievements as mere stepping-stones for the next advance.

At the start of his scientific work, Einstein realized the inadequacies of Newtonian mechanics and his special theory of relativity stemmed from an attempt to reconcile the laws of mechanics with the laws of the electromagnetic field. He dealt with classical problems of statistical mechanics and problems in which they were merged with quantum theory: this led to an explanation of the Brownian movement of molecules. He investigated the thermal properties of light with a low radiation density and his observations laid the foundation of the photon theory of light.

In his early days in Berlin, Einstein postulated that the correct interpretation of the special theory of relativity must also furnish a theory of gravitation and in 1916 he published his paper on the general theory of relativity. During this time he also contributed to the problems of the theory of radiation and statistical mechanics.

In the 1920's, Einstein embarked on the construction of unified field theories, although he continued to work on the probabilistic interpretation of quantum theory, and he persevered with this work in America. He contributed to statistical mechanics by his development of the quantum theory of a monatomic gas and he has also accomplished valuable work in connection with atomic transition probabilities and relativistic cosmology.

After his retirement he continued to work towards the unification of the basic concepts of physics, taking the opposite approach, geometrisation, to the majority of physicists.

Einstein's researches are, of course, well chronicled and his more important works include Special Theory of Relativity (1905), Relativity (English translations, 1920 and 1950), General Theory of Relativity (1916), Investigations on Theory of Brownian Movement (1926), and The Evolution of Physics (1938). Among his non-scientific works, About Zionism (1930), Why War? (1933), My Philosophy (1934), and Out of My Later Years (1950) are perhaps the most important.

Albert Einstein received honorary doctorate degrees in science, medicine and philosophy from many European and American universities. During the 1920's he lectured in Europe, America and the Far East and he was awarded Fellowships or Memberships of all the leading scientific academies throughout the world. He gained numerous awards in recognition of his work, including the Copley Medal of the Royal Society of London in 1925, and the Franklin Medal of the Franklin Institute in 1935.

Einstein's gifts inevitably resulted in his dwelling much in intellectual solitude and, for relaxation, music played an important part in his life. He married Mileva Maric in 1903 and they had a daughter and two sons; their marriage was dissolved in 1919 and in the same year he married his cousin, Elsa Löwenthal, who died in 1936. He died on April 18, 1955 at Princeton, New Jersey.

Photoshop

Jumat, 26 November 2010

Agar Shalat Khusyu'


Khusyu dalam sholat adalah kondisi hati yang penuh dengan ketakutan, mawas diri dan tunduk, pasrah di hadapan keagungan Allah. Kemudian semua itu membekas dalam gerak-gerik anggota badan yang penuh hikmat dan konsentrasi dalam shalat, bila perlu menangis dan memelas kepada Allah sehingga tak memperdulikan hal lain.

Ada beberapa kiat khusyu’ dalam shalat yang kerap kali disinggung oleh para ulama dalam buku-buku mereka khususnya yang berkenaan dengan hukum dan tata cara shalat.

Di antaranya:

1. Mengenal Allah, Menghadirkan, Mengagungkan dan

Takut Kepada-Nya.

Orang yang paling khusyu’ dalam shalat adalah orang yang paling bertakwa.

Karena Allah ber_rman:

“(orang-orang yang khusyu’ yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb mereka, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 46)

Maksudnya, hanya orang-orang yang berilmu yang tergolong bertakwa kepada Allah. Dan tentunya, hanya merekalah yang digolongkan orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Yang dimaksud dengan ilmu di sini tentunya ilmu yang shahih yang membuahkan amalan shalih.

2. Menyadari BahwaShalat Adalah Perjumpaan, Sekaligus Komunikasi Dirinya Dengan Allah.

Hal itu telah diisyaratkan dalam hadits Nabi :

“Apabila seorang di antaramu sedang shalat, sesungguhnya dirinya sedang berkomunikasi kepada Allah. Maka janganlah ia membuang ludah ke hadapan muka, atau ke arah kanan; tapi hendaknya ia membuangnya ke-sebelah kiri, atau di bawah telapak kakinya.”

Imam Nawawi berkata:

“Sabda beliau: “..sesungguhnya ia sedang berkomunikasi kepada Rabb-nya…”, merupakan isyarat akan pentingnya keiklasan hati, kehadirannya (dalam shalat) dan pengosongannya dari selain berdzikir kepada Allah… “. Jika shalat adalah komunikasi seorang hamba kepada Allah, dan itu sudah disadari oleh orang yang shalat; maka sudah selayaknya hal itu memacu dirinya untuk bersikap khusyu’. Karena diapun sadar, bahwa segala gerak hatinya, apalagi gerak tubuh kasarnya, pasti selalu diperhatikan oleh Allah.

3. Ikhlash Dalam Melaksanakannya.

Keikhlasan adalah ruh aural. Allah ber_rman:

“Yang menjadikan hidup dan mati, agar Dia menguji kamu; eiapakah di antara kamu sekalian yang terbaik amalannya.” (al-Mulk: 2) Berkenaan dengan ayat ini; Fudhail bin Iyyadh pernah menyatakan:

“Yang dimaksudkan dengan yang terbaik amalannya, adalah yang paling ikhlas dan paling benar.” Satu amalan yang dianggap pelakunya sudah ikhlas, bila tak mencocoki ajaran syari’at, tak akan diterima. Demikian juga amalan yang benar sesuai ketentuan, namun tidak ikhlas karena Allah, juga tak ada gunanya. Ikhlas, artinya hanya untuk Allah. Benar, artinya menuruti, Sunnah Rasul .

Satu amalan yang dilakukan dengan ikhlas, dengan sendirinya akan mudah meleburkan diri si hamba secara menyeluruh ke dalam ibadah itu sendiri. Karena tak satupun -menurut keyakinannya- yang pantas menguras perhatian dirinya selain Allah.

4.Mengkonsentrasikan Diri Hanya Untuk Allah.

Dalam shahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Seandainya seorang hamba (sesudah berwudhu dengan baik) tegak malakukan shalat, memuji Allah, menyanjung-Nya, mensucikan diri- Nya yang mana itu memang merupakan hak-Nya, mengkonsen- trasikan diri hanya rnengingat Allah; maka ia akan keluar dari shalatnya laksqna bayi yang baru dilahirkan.”

Al-Imam Ibnu Katsir menyatakan:

“Sesungguhnya kekhusyu’an dalam shalat itu hanya dapat dicapai oleh orang yang mengkonsentrasikan hatinya untuk shalat itu, disibukkan oleh shalat hingga tak mengurus yang lainnya; sehingga ia lebih mengutamakan shalat dari amalan yang lain.

5. Menghindari Berpalingnya Hati Dan Anggota Tubuh Dari Shalat.

Aisyah pernah bertutur:

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang berpalingnya wajahdi kala shalat, ke arah lain.

Beliau menjawab:

“Itu adalah hasil curian setan dari shalat seorang hamba.”

Ath-Tayyibi menyatakan:

“Dinamakan dengan “hasil curian”, menunjukkan betapa buruknya perbuatan itu. karena orang yang shalat itu tengah menghadap Allah,namun setan mengintai dan mencuri kesempatan. Apabila ia lengah, setan langsung beraksi!

Imam Ash-Shan’ani menyatakan:

“Sebab dimakruhkannya berpaling tanpa hajat di kala shalat, karena itu dapat mengurangi kekhusu’an, dan dapat juga menyebabkan sebagian anggota badan berpaling dari kiblat. Juga karena shalat itu adalah menghadap Allah.

6. Merenungi Setiap Gerakan Dan Dzikir-Dzikir Dalam Shalat.

Imam Ibnul Qayyim pernah menyatakan:

“Ada satu hal yang ajaib, yang dapat diperoleh oleh orang yang

merenungi makna-makna Al-Qur’an. Yaitu keajaiban-keajaiban Asma dan Sifat Allah. Itu terjadi, tatkala orang tadi menuangkan segala curahan iman dalam hatinya, sehingga ia dapat memahami bahwa setiap Asma dan Sifat Allah itu memiliki tempat (bukan dibaca) di setiap gerakan shalat.

Artinya bersesuaian. Tatkala ia tegak berdiri, ia dapat menyadari ke-Maha Terjagaan Allah, dan apabila ia bertakbir, ia ingat akan ke-Maha Agung-an Allah.”

7. Memelihara Tuma’ninah (Ketenangan), Dan TidakTerburu-buru Dalam Shalat.

Allah ber_rman:

“Dan apabila kamu sudah tenang, maka dirikanlah shalat…” (An- Nisa’: 103).

Ayat di atas jelas mengisyaratkan bahwa ketenangan, adalah faktor vital dalam

shalat yang harus diperhatikan. Sehingga “keharusan” shalat bagi seorang mukmin di saat-saat berperang dengan orang-orang ka_r, dilakukan kala ia sudah

kembali tenang.

Hal ini juga terpahami jelas dari hadits tentang “Shalat orang yang asal- asalan”, yang lalu dikoreksi oleh Nabi. Bahkan orang itu disuruh mengurangi shalatnya dengan sabda beliau, yang artinya:

“…dan ruku’lah sehingga kamu tuma’ninah dalam ruku’ itu. lalu tegaklah berdiri sampai kamu tuma’ninah dalam berdiri…dst” .

8. Semangat Dalam Melakukannya.

Ini satu hal yang lumrah. Karena tatkala seseorang shalat dengan seenaknya,

malas dan tidak bersemangat; jelas tak akan dapat diharapkan kehusyu’annya. Oleh sebab itu, dalam hadits yang diceritakan Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah pernah memasuki masjid. Tiba-tiba beliau melihat ada tali yang direntangkan antara dua tiang masjid tersebut. Beliau lantas bertanya: “Untuk apa tali ini?” Para shahabat

menjawab: “Itu punyanya Zainab. Kalau dia lagi lemas waktu shalat, itu dijadikan tempat berpegangan.” maka beliau bersabda, yang artinya:

“Lepaskan tali itu. setiap kamu itu hendaknya shalat dengan bersemangat. Kalau dia memang merasa capek, ya istirahat dulu.”

Rasulullah juga pernah bersabda,

“Apabila salah seorang di antara kamu mengantuk, sedangkan iatengah melalukan shalat; hendaknya ia tidur terlebih dahulu sehinga hilang rasa mengantuknya. Karena kalau ia shalat terus, jangan jangan, ia ingin beristighfar malah mencaci dirinya sendiri”.

Berkenaan dengan hal itu, Imam An-Nawawi pernah menyatakan:

“dengan konsentrasi penuh, khusyu’, terfokus _kirannya kepada Allah dan dengan semangat.

Hadits tersebut juga menyuruh orang yang mengantuk selagi shalat itu untuk tidur dulu, atau melakukan hal lain yang dapat menghilangkan rasa kantuknya.”

Dalam hal ini, nampak sekali kesalahan sebagian kaum Muslimin yang menganggap shalat yang khusyu’ itu cenderung harus dilakukan dengan lemah gemulai dan tak bertenaga. Kalau kita tilik kembali tata cara shalat yang diajarkan Nabi akan kita dapati bahwa seluruh gerakan shalat secara kolektif ternyata harus dilakukan dengan bersemangat, bukan dengan melemas-lemaskan tubuh.

Ambil contoh misalnya: ruku’. Di saat melakukan ruku’, orang yang shalat diperintahkan untuk meluruskan punggung. Namun disamping itu ia juga diperintahkan untuk membengkokkan sedikit kedua tangannya. Konsekuensinya, ia harus melakukan gerakan itu dengan perhatian penuh.

Contoh lain, kala bersujud. Di saat bersujud, seorang mukmin harus meluruskan punggungnya, meluruskan pahanya, meletakkan dengan tepat tujuh anggota sujud, menekankan kening ke bumi, bertumpu pada kedua belah telapak tangan, merapatkan kedua telapak kaki, mengarahkan dengan penuh jari-jari kaki kearah kiblat, merenggangkan kedua lengan, menjauhkan perut dengan bumi; di samping juga berdzikir, memanjangkan sujud dan lain-lain. Semuanya itu, tak syak lagi, hanya bisa dilakukan dengan penuh perhatian dan semangat yang tinggi.

9. Memilih Tempat Shalat Yang Sesuai.

Artinya yang memenuhi syarat agar bisa membuat shalat kita menjadi khusyu’. Tempat tadi paling tidak harus memenuhi beberapa kriteria berikut:

1. Tenang, dan jauh dari keributan yang ditimbulkan -mungkin- oleh.penuh sesaknya orang-orang yang shalat, sehingga membikin suara yang mangganggu. Sesungguhnya Nabi pernah marah ketika dalam shalat beliau mendengar suara ribut di belakangnnya.

1. Hadirnya para malaikat. Artinya, kita menghindari hal-hal/sesuatu yang meng halangi malaikat (rahmat) untuk memasuki tempat kita menunaikan shalat. misalnya, lukisan benda bernyawa, atau anjing. Karena Nabi bersabda:

“Para malaikat tidak akan memasuki satu rumah yang didalamnya ada lukisan benda bernyawa, atau anjing.” 17 Imam al-Khitabi menjelaskan:

“Yang dimaksud di situ adalah para malaikat yang datang membawa rahmat dan berkah, bukan para malaikat yang mencatat amalan seorang hamba. Karena mereka (yang kedua) itu tak pernah berpisah dengan manusia.” Di antaranya lagi, suara- suara musik. Juga termasuk di antaranya suara bell lonceng. Karena Nabi pernah bersabda:

“Sesungguhnya lonceng itu adalah seruling-seruling setan.”

10. Menghindari Segala Yang Menyibukkan Dan Mengganggu Sahalat.

Termasuk dalam lingkaran larangan itu, shalat di kala makanan sudah dihidangkan; atau shalat di kala sedang menahan buang air kecil atau besar. Nabi bersabda yang artinya:

“Janganlah salah seorang di antara kamu shalat, kala makanan dihidangkan, atau kala menahan buang air.”

Diriwayatkan dalam hadits al-Bukhari dan Muslim: 558, bahwasanya Ibnu Umar pernah dihidangi makanan; saat itu adzan berkumandang, namun beliau terus saja makan sampai selesai. Padahal beliau sudah mendengar suara bacaan imam. Di antaranya yang lain: shalat di bawah terik matahari. ‘Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda, yang artinya:

“Apabila matahari bersinar terik / panas sekali, tundalah waktu shalat hingga cuaca dingin. Karena sesungguhnya panas yang terik itu berasal dari uap Narr Jahannam.”

Yang lainnya lagi: memandang (ketika shalat) sesuatu yang merusak konsentrasi. Dari Anas diceritakan, bahwa Aisyah memiliki kain korden berhias yang menutupi sebagian tembok rumahnya. Maka Rasulullah bersabda:

“Singkirkan korden itu, Sesungguhnya gambar-gambarnya itu terus terbayang dalam diriku di waktu shalat.”

Imam Ash-Shan’ani berkomentar:

“Sesungguhnya hadits itu mengandung larangan terhadap segala hal

yang dapat mengganggu shalat. Baik itu ukiran-ukiran, hiasan-hiasandan lain-lain.

11. shalat,seperti shalatnya orang yang akan bepergian jauh (meninggalkan alam fana).

Rasulullah pernah menegaskan:

“Apabila engkau melakukan shalat, maka shalatlah kamu, dengan shalatnya orang yang akan meninggalkan alam fana…”.

Yang dimaksud, agar kita shalat dengan shalatnya orang yang rindu untuk berjumpa Allah. Bukan shalatnya orang yang gila dunia, yang menjadikan dunia dan segala kesibukannya sebagai bayangan yang selalu terukir dalam benak. Masih ada juga beberapa kiat khusyu’lainnya dalam shalat. Cukup dikutip sebagian di antaranya; sekedar untuk memacu dirt kita agar memperbaiki kualitas shalat kita.

Menghiasi dan menyempurnakannya dengan kekhusyu’an; sehingga pada akhirnya, akan menjadikan kita sebagai mukmin yang penuh keberuntungan, dunia dan akhirat. Lalu, kita berdoa kepada Allah agar kita dijauhkan dari mereka yang disebutkan dalam firrman Allah:

“Maka sungguh satu kecelakan yang besar bagi meraka yang telah mambatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata:” (az-Zumar: 22).

Amalan Yang Mendekat kan Pada Pertolongan Allah


Amalan-amalan yang paling disukai Allah ialah yang lestari meskipun sedikit( HR. Al Bukhari ). Ketahuilah bahwa semua perintah Allah SWT. Itu mutlak menguntungkan kita. Dan ketaatan seorang mahluk terhadap Khaliqnya itu sama sekali tidak akan menambah apa pun bagi Allah, kecuali hanya untuk kemanfaatan dan kemaslahatan dirinya sendiri. Semakin berat suatu perintah, peluang terangkatnya derajat kemuliaan kita pun semakin besar dan peluang pertolongan Allah kepada pelakunya kian dekat. Beratnya perintah itu bukan terletak pada Amalannya itu sendiri melainkan pada sikap istiqamah dalam melaksanakannya. Jadi sikap istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya inilah yang merupakan perbuatan yang amat sukar dan berat. Tapi kalau bisa melakukannya, Masya Allah.

Sebagai salah satu contoh. Almarhum buya Hamka, pada hari-hari biasa, ia menamatkan baca Al Quran setiap 5-7 hari dan setiap tiga hari selama bulan suci Ramadhan. Menurut Harian Kompas 24 Juli 1981 antara lain, Meski terbaring lemas sejak masuk rumah sakit, namun Ulama terkemuka itu tidak pernah melewatkan waktu salat. Ia begitu keras hati tidak mau bertayamum, dan minta di-wudhukan menggunakan lab basah oleh istri atau salah seorang anaknya. Ia mengerjakan sembahyang dalam keadaan terbaring, sementara berbagai pipa perawatan darurat terentang masuk kerongkongan dan lubang hidungnya.

Sejak masuk rumah sakit, Buya banyak tidur karena memang perawatannya harus demikian. Pada saat-saat terbangun, ia mencoba berbicara sedikit-sedikit dengan suara lemah terbata-bata. Kalau bukan menanyakan sudah masuk waktu salat atau belum, atau minta diwudhukan, biasanya menanyakan salah seorang anak atau menantu atau cucunya yang saat itu kebetulan tidak tampak olehnya. Lalu apa karamah yang diberikan Allah kepadanya ?. Buya tersenyum ketika meninggal. Lihat foto halaman 112 Buku Perjalanan Terakhir Buya Hamka.

Ada lagi kisah si mbok penjual jamu. Ia selalu dimintai tolong bila diantara tetangganya yang terkena suatu penyakit. Caranya?. Dengan memberi segelas air yang " diberi " doa. Ternyata mujarab. Suatu waktu si mbok itu mengunjungi seorang ulama, menanyakan ihwalnya. "Mungkin ibu suka melakukan amalan-amalan tertentu, yang dengan itu Allah berkenan menjadikan ibu sebagai jalan turunnya pertolongan-Nya. Coba ibu ingat-ingat" tanya ulama. "Sebenarnya semua amalan saya, saya rasa biasa-biasa saja sebagaimana muslimah-muslimah lainnya. Tetapi saya memang selalu berusaha sudah ada di masjid sepuluh menit sebelum azan dikumandangkan "ujarnya." Insya Allah, tampaknya amalan itulah yang membuat Allah suka terhadap ibu", lanjut sang ulama.

Oleh Allah kita disuruh bersedekah. Nampaknya perintah itu seakan-akan harus mengeluarkan harta yang telah susah payah dikumpulkan. Padahal justru dengan sedekah kita akan mendapat keuntungan yang berlipat ganda. Dengan sedekah akan tertolaklah bala dan musibah yang akan menimpa. Rejeki yang didapat pun benar-benar akan berlipat ganda. Bahkan, kalau kita menjadi ahli sedekah, maka Allah akan melembutkan hati orang-orang sehingga mereka pun akan menyayangi kita. Belum lagi Allah sendiri pun akan mencintai kita. Sementara uang yang kita sedekahkan pun ternyata titipan Allah juga. Jadi dimana letak ruginya kalau demikian ?

K.H.Abdullah Gymnastiar, menganjurkan agar kita istiqamah dalam bersedekah. Kata beliau jangan biarkan waktu subuh berlalu tanpa mengeluarkan sedekah. Karena saat malaikat mendoakan hamba-hamba Allah. Walau pun hanya sekeping uang logam ratusan, namun Allah Maha melihat keikhlasan kita beramal dan kesungguhan kita dalam menjaga sikap istiqamah. Sekiranya uang tidak ada, yang ada hanya makanan, sedekahkanlah. Pendek kata jangan sampai ada hari berlalu tanpa sedekah.

Sungguh teramat baik siapapun yang berusaha istiqamah dalam salat berjamaah. Bahkan akan jauh lebih baik lagi kalau istiqamah salat berjamaah di masjid. Kalau pun karena sesuatu hal tidak sampai di masjid paling tidak salat di rumah dengan mengajak anak, istri dan pembantu. Rasulullah SAW. bertanya kepada Jibril AS., "Apakah yang diperoleh umatku dalam salat berjamaah ?" Jibril AS. berkata, "Wahai Muhammad setiap rakaat yang dilakukan seseorang mukmin bersama imam jamaah lebih baik baginya dari pada bersedekah seratus ribu dinar kepada orang miskin, satu sujud yang ia lakukan bersama imam lebih baik daripada ibadah satu tahun. Tidak ada azab kubur dan kepedihan Hari Kiamat bagi orang yang menjalankan salat secara berjamaah".

Malam hari ketika sedang nyenyak-nyenyaknya tidur malah kita disuruh bangun untuk mendirikan salat tahajjud. Tidak tanggung-tanggung, sebelas rakaat lagi. Padahal pada sepertiga akhir malam itu justru merupakan saat pulas-pulasnya tidur karena nikmat dan dingin udaranya.

Masih banyak lagi, bentuk amalan yang ringan, tapi kalau mau dilaksanakan secara istiqamah, akan diberikan ganjaran pahala yang besar dan karamah yang sudah bisa dinikmati oleh si pengamalnya ketika ia masih hidup di dunia ini.

Oleh karena itu siapapun yang mampu istiqamah, konsisten dalam melakukan apa pun dari kiprah hidup kesehariannya hampir dapat dipastikan akan membuat orang-orang di sekelilingnya merasa suka dan bahkan segan terhadapnya. Itu baru dalam urusan dunia. Demikian pula dalam melaksanakan syariat agama. Betapa Allah amat menyukai hamba-Nya yang melakukan suatu amalan secara mudawwamah, dilakukan terus-menerus secara konsisten, kendati amalan itu amat ringan.

Kamis, 25 November 2010

Mencintai Allah

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mencintai Allah SWT adalah menjadikan Allah SWT dan segala perintahnya sebagai prioritas utama dalam segala wujud kehidupan sehari-hari. Cinta kepada Allah SWT adalah cinta pada level tertinggi, mengalahkan segala bentuk cinta kepada manusia, termasuk kepada orang tua, istri, anak-anak, harta benda dan semuanya.

Jangankan menjadikan yang selain Allah SWT itu lebih tinggi derajatnya dengan cinta kepada Allah, bahkan bila hanya sama dan sederajat saja, sudah dikatakan zalim oleh Allah.

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya. QS. Al-Baqarah: 165}

Apalagi bila menjadikan semua itu lebih kita cintai dari Allah, tentu lebih parah lagi. Allah menyebut mereka yang mencintai selain dirinya dengan tingkat kecintaan yang lebih tinggi dari mencintai Allah, mereka adalah orang fasiq.

Katakanlah, Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Tata Cara Mencintai Allah

Cara mencintai Allah tentu harus sesuai dengan cara yang ditentukan Allah SWT. Bukan dengan cara mengarang-ngarang sendiri, apalagi menciptakan sendiri ritual-ritual aneh yang tidak ada dasarnya dari Allah SWT.

Dan bentuk mencintai Allah SWT yang paling tepat adalah dengan cara mengikuti petunjuk dari Rasulullah SAW. Sebab beliau adalah petugas resmi yang diutus Allah SWT kepada umat manusia untuk mengajarkan bagaimana cara mewujudkan bentuk real sebuah cinta kepada-Nya.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Apapun realisasi rasa cinta seseorang kepada Allah SWT, tetapi kalau sampai bertentangan dengan apa yang telah Rasulullah SAW ajarkan, maka pengungkapan bentuk cinta itu justru tertolak, bahkan malah melahirkan laknat dan siksa dari Allah.

Sebab kedudukan Rasulullah SAW adalah sebagai utusan resmi satu-satunya dari Allah kepada seluruh manusia, bahkan kepada seluruh makhluk hidup yang ada. Maka apa pun yang beliau sampaikan, wajib kita ikuti dengan sepenuh hati. Sebaliknya, apapun yang dilaranganya, tentu saja wajib kita jauhi dari diri kita. Penegasan pernyataan ini disampaikan Allah langsung di dalam Al-Quran Al-Kariem.

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah menggambarkan sebuah pengibaratan tentang bentuk cinta kepada Allah. Beliau berkata bahwa cinta kepada Allah itu ibarat pohon dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah mengenal nama dan sifat Allah, rantingnya adalah rasa takut kepada Nya, daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya Dan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya. Kapanpun jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”. .

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Rabu, 24 November 2010

Kebesaran Allah Pada Tragedi Gaza

Sejak dulu hingga saat ini, ketika Israel tengah melakukan aksi kejahatan kemanusiaan atau aksi kejahatan lainnya (misal pembangunan terowongan di bawah Masjid Al Aqsha), maka dengan serentak, Israel menerapkan penguasaan media dengan content yang seragam. Sebagai contoh ketika Israel membombardir Lebanon di musim panas tahun 2006 lalu, para model yang berkebangsaan Israel dengan berbikini ria membanjiri semua halaman majalah di AS. Mantan Miss Israel, Gal Gadot mengaku diminta langsung oleh konsulat Israel di New York untuk memperlihatkan tubuhnya tanpa sehelai benang pun sebagai bagian dari strategi pengalihan publik atas makar yang sedang dilakukan Israel. Demikian dilaporkan oleh New York Post, Juni 2007.

Dan beberapa hari lalu, ketika langit Jalur Gaza pekat oleh cendawan asap dari bom-bom yang dijatuhkan oleh tentara Zionis-Israel, taktik serupa juga diberlakukan. Majalah Maxim dan majalah/tabloid bertiras tinggi di AS dan Eropa banyak memajang wanita bugil untuk mengalihkan perhatian pembaca dari berita-berita penggemburan Israel di Jalur Gaza.

Tapi apakah sekarang Israel memenangkan perang media ini? Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni menyampaikan sebuah pesan di YouTube bahwa dengan membuat 1,5 juta orang Palestina di Jalur Gaza kelaparan, sekarat, terpenjara, dan dibom --akan membuat dunia menjadi lebih damai, lebih baik, dan lebih indah untuk demokrasi serta keamanan dunia. Namun kenyataannya, tidak selalu yang diharapkan para Zionis itu terwujud. Surat kabar di AS semakin hari semakin memperlihatkan obyektivitasnya. Selain memenuhi pesanan Tel Aviv, mereka juga menyisakan satu ruang kosong, dan membuat pertanyaan : “Apa yang dimenangkan oleh Israel sebenarnya?”

Subhanallah. Israel yang selama ini digjaya dalam menguasai berita, sekarang tak bisa lagi memenangkan perang media di AS dan di belahan dunia lainnya. Jutaan orang di seluruh dunia lebih berhati-hati dan memfilter semua berita yang masuk. Semua kenyataan perang yang ditimbulkan oleh Israel; potret bocah-bocah Palestina yang dibantai, sekolah PBB yang dihancurkan bom, gedung, rumah dan rumah sakit yang diratakan tanah, telah membuka mata semua orang di berbagai belahan dunia.

Internet membuka semua kemungkinan bahwa Israel tak akan pernah bisa lagi menyembunyikan segala kelakukan barbarnya. Israel sekarang harus menghadapi kenyataan, strategi perang medianya tak berjalan. Warga AS dan Barat, juga warga negara diberbagai belahan bumi lainnya, tak selamanya senang melihat paha mulus. Sebaliknya, atas nama nurani, mereka bangkit ketika melihat bayi yang terkoyak karena bom dan senjata mematikan.

Ya, internet telah membuka mata dunia akan kebiadan Israel yang selama ini selalu ditutup-tutupi. Fakta-fakta telanjang tentang kebiadan Zionis-Israel tersebar luas di halaman-halaman website dan situs-situs jejaring sosial yang gratisan maupun premium. Foto-foto pembantaian menyebar demikian cepat ibarat “virus” yang tidak terbendung. Publik pun menjadi sadar bahwa dominasi fakta yang menyudutkan Israel adalah kebenaran belaka, karena tidak mungkin dan sangat tidak logis jika semua penduduk bumi berkonspirasi untuk berbohong guna menutupi fakta-fakta dan kejadian yang sesungguhnya.

Media adalah salah satu bidang garapan yang menjadi perhatian dan dikuasai Yahudi. Terdapat suatu postulat bahwa “barang siapa yang mengusai media, maka dialah yang mengusai peperangan.” Fakta yang terjadi, tumbuh suburnya web site dan situs jejaring sosial yang bisa diakses oleh siapa saja, justru menjadi media yang sangat efektif untuk menyebarkan fakta yang sesungguhnya. Dan dengan izin Allah SWT, blogger-blogger muslimlah yang selama ini mampu secara intens menyebarluaskan kebaikan dan fakta kezaliman Israel ke berbagai penjuru dunia.

Terdapat suatu hikmah yang sangat besar akan kebenaran firman Allah SWT dalam Al Qur’an dan sekaligus bukti akan pertolongan-Nya bagi kaum muslimin, bahwa “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (3:54).

Semoga hikmah ini sekaligus makin mengukuhkan niat para blogger muslim dan penyeru kebaikan untuk tetap menyebarkanluaskan kebaikan dengan tulisan atau pun lisannya, di belahan dunia mana pun dan dengan bahasa apapun. Sesungguhnya pertolongan Allah SWT bersama dengan orang-orang yang berusaha meninggikan kalimat-Nya. Amin.

Kiat Mempertahan Kan Hidup Sehat



Selain secara rutin berlatih pernafasan perut selama 15 menit pagi dan sore untuk mempertahankan keselarasan tubuh, Anda juga perlu melakukan perubahan gaya hidup. Sesuai dengan kaidah kesehatan holistik, inilah 5 hal yang harus diperhatikan:

1. Makanan.
Makanlah makanan yang menenangkan pikiran:
• Sayuran yang tidak dimasak lama, hanya diseduh atau ditumis sebentar. Misalnya gado2, karedok, salad, sayur –sayur yang ditumis.
• Nasi, roti, kacang2-an (kecuali kacang merah), tahu, tempe, minyak goreng dalam jumlah terbatas.
• Segala macam buah-buahan segar.
• Susu dan produk susu dalam jumlah terbatas kurang lebih 250 ml tiap hari.

2. Pola hidup.
Pola hidup merupakan faktor penentu. Menjaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan, kesederhanaan dan lain sebagainya ikut menentukan kesehatan jasmani dan rohani anda.

3. Pekerjaan.
Banyak diantara Anda sering pindah kerja hanya karena ingin mengejar gaji yang lebih tinggi. Siapa yang tidak butuh uang? Namun hanya karena uang, janganlah mengorbankan job satisfaction – kepuasan yang dapat Anda peroleh dari suatu pekerjaan. Apabila mengerjakan sesuatu semata-mata karena uang, hasilnya tidak akan pernah memuaskan. Anda tidak akan pernah berhasil memuaskan atasan maupun diri Anda sendiri. Anda harus menyenangi pekerjaan Anda. Dan segala sesuatu yang Anda lakukan akan membawakan hasil yang jauh lebih bagus.

4. Persahabatan.
Persahabatan sangat menentukan karakter dan perkembangan kepribadian seseorang. Anda boleh shalat lima waktu, boleh rajin ke gereja atau ke pura atau ke vihara. Anda boleh melakukan meditasi dua kali sehari, tetapi apabila pergaulan Anda tidak menunjang kehidupan spiritual Anda , semuanya akan sia-sia.

Tanpa harus menghakimi orang lain,apakah itu baik atau buruk, Anda harus mengambil sikap. Hindarilah pergaulan yang tidak menunjang kehidupan spiritual, tidak menunjang kehidupan yang berakhlak atau hidup dalam kesadaran.
Keluar masuk tempat ibadah bukanlah kehidupan spiritual. Mengamalkan ibadah itu, menerjemahkan agama dalam kehidupan sehari-hari , itulah kehidupan spiritual. Jadi kehidupan spiritual meliputi segala aspek kehidupan Anda. Kehidupan spiritual berarti men-spiritual-kan usaha, profesi, ucapan, pikiran serta perbuatan Anda sehari-hari. Semuanya itu bisa terjadi dengan mudah, apabila bersahabat dengan orang-orang yang akan menunjang kehidupan spiritual Anda.

5. Lingkungan.
Tempat tinggal, lingkungan sekitar rumah, lingkungan sekitar tempat kerja – semuanya itu dapat mempengaruhi kesehatan jasmani dan rohani Anda. Lingkungan yang bersih, yang menunjang kesehatan adalah “lingkungan bebas sampah”. Bukan sekedar bebas sampah yang terkumpul di setiap rumah, setiap hari yang menjadi tanggungan Dinas Kebersihan untuk mengangkutnya. Tetapi juga bebas sampah kemunafikan, kepicikan dan ketidak sadaran.

Penyelarasan antara fisik, mind dan nafas – serta penyelarasan antara ketiga unsur kepribadian Anda dengan alam sekitar, sangat penting, sangat menentukan kesehatan secara keseluruhan.
Sekali lagi harus diingat apabila para sufi membicarakan kesehatan, mereka selalu membicarakan kesehatan secara keseluruhan, secara menyeluruh atau holistik. Fisik yang tadinya sakit karena penyakit, lantas sembuh, menjadi sehat—tetapi tidak ditunjang faktor-faktor di luar diri, sebagaimana dijelaskan diatas – akan tumbang lagi, akan jatuh sakit lagi.

Dan, persis itu yang terjadi selama ini. Apa yang disebut kesehatan selama ini, hanyalah kenyamanan sementara yang dirasakan setelah sembuh dari suatu penyakit dan sebelum jatuh sakit lagi. Anda belum pernah kenal dengan kesehatan holistik.

Arti kehidupan


Coba tanya diri anda masing – masing. Apa arti hidup menurut anda?

Hidup adalah …. .

Coba isi titik – titik yang tersedia setelah kata adalah. Pertanyaan ini sederhana, namun saya yakin isinya pasti beragam. Bisa jadi hidup adalah perjuangan, atau hidup adalah tantangan, atau hidup adalah perjalanan, dll.

Jawaban dari pertanyaan tadi bisa jadi beragam, namun ada satu hal yang perlu diperhatikan : Jawaban dari pertanyaan tersebut mencerminkan keyakinan anda atas kehidupan. Orang yang meyakini bahwa hidup adalah perjuangan akan melihat bahwa hidup adalah sebuah perjuangan yang harus di perjuangkan. Maka dari itu, hari hari dalam hidupnya akan dijalani dengan berjuang. Sedangkan orang yang meyakini bahwa hidup adalah tantangan, akan melihat bahwa hidup yang dijalaninya adalah tantangan yang harus di pecahkan. Dia akan menjalani kehidupannya dengan “memecahkan tantangan”. Orang yang meyakini bahwa hidup adalah perjalanan akan melihat bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang harus dicapai tujuannya. Maka dari itu dia akan menjalani kehidupannya dengan “berjalan” diatasnya.

Cara kita meyakini kehidupan akan berimbas ke pola pikir kita. Pola pikir akan mempengaruhi tindakan, dan tindakan akan menghasilkan nasib.

Sekarang, bagaimana kita sebagai orang beriman seharusnya memandang kehidupan?

Terjemahan Q.S. Al – Hadid ( 57 ) Ayat 20 :

Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian ( tanaman ) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.

Note that : hidup adalah permainan. Waw, apakah ini berarti yang kita lakukan selagi hidup ini adalah bermain dan bersenang – senang?

Pahami konteks keseluruhan tersebut. Pemahaman yang coba di ajarkan Tuhan melalui (terjemahan) wahyu ini adalah bahwa hidup adalah sebuah permainan yang jangka waktunya pendek, maka dari itu kita harus menjadi pemain dari “permainan kehidupan”, bukannya main – main dalam kehidupan.

Maksudnya?

Pemain adalah mereka yang memainkan permainan dengan serius. Cermati contoh ini : pemain sepak bola. artinya? Mereka yang bermain sepak bola yang serius mengikuti permainan sepak bola dan mematuhi peraturan – peraturannya.

Sekarang perhatikan mereka yang menjadikan dirinya “pemain” sepak bola yang sungguh – sungguh : contoh, Kaka. Apa yang Tuhan berikan kepada Kaka yang menjadikan dirinya “pemain” sepak bola? kehidupan yang luar biasa, penghasilan yang melimpah, popularitas, jutaan penggemar, dll.

Itu baru menjadikan diri sebagai “pemain” sepak bola yang notabene dibatasi oleh 45menit X 2 dalam lapangan rumput persegi dan bola bundar.

Bisa bayangkan apa yang akan Tuhan berikan jika anda menjadi “pemain” dari permainan besar kehidupan? Menjadikan diri anda seorang manusia profesional yang mengikuti peraturan dunia dan “bermain” / menjalani kehidupan dengan serius?

Imagine that.

Tanya kembali diri anda : Apa arti kehidupan bagi anda?
P.S.

1. Sebelum ada yang bertanya apa itu peraturan kehidupan? jawabannya adalah peraturan ( dan petunjuk ) yang di sampaikan oleh Nabi yang menjadi panutan anda. Apa lagi memangnya?
2. Materi ini saya dapat dari forum liqo yang saya ikuti tadi malam. Liqo secara bahasa bermakna lingkaran, sedangan liqo secara istilah yang saya maksud disini adalah sekumpulan orang yang duduk membentuk lingkaran kecil ( antara 5 – 10 orang ), dimana dalam forum tersebut ada seorang yang berperan menjadi mentor dan sisanya menjadi murid. Yang dibahas dalam forum liqo adalah berbagai hal yang benang merahnya adalah peran kita di dunia sebagai seorang beriman yang perannya adalah menjadi rahmat bagi seluruh alam.
3. Saya setuju dengan Bapak Ary Ginanjar : Jika ada ayat dari Al – Qur’an yang saya kutip, bukan bermakna tulisan ini ditujukan untuk penganut agama islam saja. Bukan dunia untuk islam, melainkan islam UNTUK dunia.

Sejarah Seks Bebas


Dilihat dari literature sejarah, perilaku seks bebas sudah pernah menjadi tradisi dalam masyarakat zaman jahiliyah dulu. Zaman di mana kondisi masyarakat Arab pra-Islam yang sangat tenggelam dalam “tanah lumpur” kebodohan dan keterbelakangan. Masyarakat senang pertikaian dan pembunuhan, kekejaman dan suka mengubur anak perempuan. Potret social mereka begitu gelap, amat primitive dan jauh dari peradaban. Pada zaman itulah berlaku tradisi perkawinan model seks bebas.
Imam Bukhori meriwayatkan dalam sebuah hadist yang diceritakan melalui istri Nabi, Aisyah ra, bahwa pada jaman jahiliyah dikenal 4 cara pernikahan. Pertama, gonta-ganti pasangan. Seorang suami memerintahkan istrinya jika telah suci dari haid untuk berhubungan badan dengan pria lain. Bila istrinya telah hamil, ia kembali lagi untuk digauli suaminya. Ini dilakukan guna mendapatkan keturunan yang baik. Kedua, model keroyokan. Sekelompok lelaki, kurang dari 10 orang, semuanya menggauli seorang wanita. Bila telah hamil kemudian melahirkan, ia memanggil seluruh anggota kelompok tersebut tidak seorangpun boleh absent. Kemudian ia menunjuk salah seorang yang dikehendakinya untuk di nisbahkan sebagai bapak dari anak itu, dan yang bersangkutan tidak boleh mengelak. Ketiga, hubungan seks yang dilakukan oleh wanita tunasusila yang memasang bendera / tanda di pintu-pintu rumah. Dia “bercampur” dengan siapapun yang disukai. Keempat, ada juga model perkawinan sebagaimana berlaku sekarang. Dimulai dengan pinangan kepada orang tua / wali, membayar mahar, dan menikah.
Jika menyimak 3 model pertama dalam perkawinan masyarakat zaman jahiliyah di atas, ada kesamaan budaya dengan perilaku seks bebas, MBA, prostitusi dan hamil di luar nikah yang kian marak di zaman sekarang. Adakah ini pertanda titik balik budaya kontemporer yang bakal kembali ke zaman jahiliyah yang primitive dan gelap seperti dulu ?

Sabtu, 20 November 2010

Iman Di Dada


Salat merupakan tali pengikat ruhani yang sangat kuat antara seoranghamba dengan Penciptanya. Hubungan yang melambangkan kehinadinaan hambadi hadapan Tuhannya dan keagungan Sang Khaliq di depan hamba-Nya. Salatdengan gamblang menggambarkan kekecilan seorang hamba dan kebesaranAllah. Salat adalah sarana munajat mendekatkan diri kepada Allah.

Salat adalah tangga ruh dan kalbu orang-orang yang merinduAllah..Dengan salat mereka merajut malam di mihrab-mihrab mahabbah dansyauq sambil bercengkerama penuh nikmat dengan Tuhannya yang sedangmembuka tirai-tirai langit bagi orang-orang yang sedang istighfar danmunajat. Lambungnya segan berdekatan dengan kasur-kasur empuk.

Mereka berdoa pada Tuhannya dengan air linangan air mata harap dancemas Hati mereka terasa hangat tatkala lambingan munajat merekapanjatkan di relung-relung malam yang senyap. mereka menyibak awan dangemintang dengan alunan panjang tasbih dan tahmid kepada Tuhan. Merekagetarkan pintu-pintu langit munajat cinta yang senantiasa bergelora dititian malam yang pendek.

Salat adalah tiang agama dan penyangga rusuk-rusuk dan organ-organagama yang lain. Jika tiang utama hancur maka kelumpuhan akan segeraterjadi pada organ-organ yang lain. Jika tiang utama ini melemah makakehidupan agama tidak bisa diharapkan bergerak kembali. Keletihan jiwaakan merasuk kelumpuhan ruhani akan menjadi epedemi.

Salat sangat berpengaruh pada pembentukan akhlak dan moralitasseseorang. Dia mampu menjadi imunisasi paling manjur bagi pelakunyauntuk terjauhkan dari semua kekejian dan kejahatan. Dia menjadi obatpaling mujarab yang menentramkan jiwa para pelakunya dan mampu mencegahpelakunya untuk tidak terjebak dalam kerakusan dan ketamakan. Dia akanmampu menjaga pelakunya untuk senantiasa bersikap rendah hati dantawadhu’ di hadapan siapa saja. Dia akan mampu mendongkrak harga diripelakunya di hadapan siapapun yang menyombongkan diri di hadapan Allah.

Salat adalah munajat dan doa. Ia adalah taubat dan inabah. Ia adalahtasbih dan istighfar, tahmid dan takbir serta tahlil yang teramu dalamsebuah untaian prosesi indah menggapai nikmat pertemuan dengan Kekasih.

Salat menjadi terminal seorang hamba dalam perjalanan hidupnya untuksejenak bersuka-ria bertemu dengan Tuhannya, Sang Maha Diraja. Dalamsalatlah mereka merasakan kenikmatan ruhani dan jiwa yang sangatsensasional.. Bahkan ada yang mengatakan : Andaikata penduduk bumi tahukenikmatan yang kami rasakan saat kami salat, pastilah mereka akanmemenggal kepala kami dengan pedang-pedang nan tajam.

Dalam salat, kita menyucikan-Nya, bermunajat dengan firman-firman-Nya.Kita ruku’ dan sujud pada-Nya. Kita renungi kembali asal penciptaankita yang berasal dari tanah dan unsur-unsur alam yang ada. Dari bahantersebut, Dia melengkapi kita dengan kemauan dan kekuatan sehingga kitamampu menyucikan, menjunjung, menahan tuntutan fisik dan syahwat,meluruskan instink, menggelorakan kecenderungan menegakkan kesucian danberusaha melawan penyimpangan-penyimpangan yang mengarah pada kekejiandan kejahatan.

Salat merupakan sarana mendidik jiwa dan memperbaharui semangat sertasebagai penyucian akhlak. Ia adalah tali penguat pengendali diri,pelipur lara, penyejuk jiwa dan pengaman dari rasa takut dan cemas. Iaakan menghancurkan kelemahan dan akan menjadi senjata ampuh bagi merekayang merasa terasingkan.

Salat membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk. Dia akan menyingkirkandunia dari hati pelakunya dan akan meletakkannya di telapak tangannya.Dia akan mencari dunia untuk dikendalikan dan bukan dunia yangmengendalikan dirinya.

Salat adalah kebun ibadah yang di dalamnya penuh dengan segala yangmenyenangkan dan menggembirakan. Ada takbir, ada ruku’, ada berdiri,ada sujud, ada duduk dan tahiyyat yang di dalamnya penuh denganmunajat. Ia adalah cahaya yang ada di dalam hati seorang mukmin dan nuryang akan memberikan penerangan kala mereka dikumpulkan di padangmahsyar. Sebagaimana Rasulullah sabdakan :


الصلاة نور


Salat itu adalah cahaya (HR. Muslim).

Dengan salat kita minta pertolongan kepada Allah dengan segalakerendahan jiwa yang terekspresikan lewat ruku’ dan sujud, yang terekamdalam semarak doa dan munajat.

واستعينوا بالصبر والصلاة وإنها لكبيرة إلا على الخاشعين

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan)shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagiorang-orang yang khusyuk (Al-Baqarah : 45).

Salat akan terasa berat jika kekhusyuaan kita demikian hampa, ia akanterasa beban jika kita tidak merindukan pertemuan dengan SangaMahakasih. Sebaliknya salat akan terasa nikmat bagi orang-orang yangkhusyu’, bagi mereka yang menjadikan salat sebagai tangga menujupertemuan dengan Sang Khalik. Salat yang benar akan senantiasa mampumenjadi tameng dari maksiat-maksiat yang mungkin akan menenggelamkanruhani kita dan merubuhkan pilar keimanan kita, serta mematikan potensikeihsanan kita :

اتل ما أوحي إليك من الكتاب وأقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون


Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (AlQur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingatAllah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yanglain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Ankabuut : 45).

Barang siapa yang menjaga salatnya, maka salat itu menjadi cahaya danketerangan (bukti) serta penyelamat baginya di hari kiamat (HR. Ahmad,Ibnu Hibban dan Thabrani).


Meruyaknya kejahatan di tengah kita bisa saja terjadi yang berupapemyimpangan, kekejian kekotoran-kekotoran ruhani sangat mungkinterjadi karena salat kita tidak lagi ada bobot nilai-nilai ilahiyahnya.Salat kita hanya berupa rangka-rangka dan gerak yang hampa ruhani.Salat kita laksana mayat yang tanpa ruh, salat kita telah mati saatkita melakukannya. Ironi, jika peringatan rutin peristiwa Isra' Mi'raj ya setiap tahuntidak melahirkan salat khusyu' yang mampu menggetarkan nurani danmenembus hingga ke langit. Salat yang hampa kekhusyu'un dan hampakerendahan hati akan melahirkan kehampaan-kehampaan baru yang tiadahenti. Maka, sudah saatnyalah kita jadikan salat sebagai sumber cahaya yang akan menerangi perjalanan kita menuju Allah Yang Maha Kuasa.

source : Yusuf Mansyur Network