
Amalan-amalan yang paling disukai Allah ialah yang lestari meskipun sedikit( HR. Al Bukhari ). Ketahuilah bahwa semua perintah Allah SWT. Itu mutlak menguntungkan kita. Dan ketaatan seorang mahluk terhadap Khaliqnya itu sama sekali tidak akan menambah apa pun bagi Allah, kecuali hanya untuk kemanfaatan dan kemaslahatan dirinya sendiri. Semakin berat suatu perintah, peluang terangkatnya derajat kemuliaan kita pun semakin besar dan peluang pertolongan Allah kepada pelakunya kian dekat. Beratnya perintah itu bukan terletak pada Amalannya itu sendiri melainkan pada sikap istiqamah dalam melaksanakannya. Jadi sikap istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya inilah yang merupakan perbuatan yang amat sukar dan berat. Tapi kalau bisa melakukannya, Masya Allah.
Sebagai salah satu contoh. Almarhum buya Hamka, pada hari-hari biasa, ia menamatkan baca Al Quran setiap 5-7 hari dan setiap tiga hari selama bulan suci Ramadhan. Menurut Harian Kompas 24 Juli 1981 antara lain, Meski terbaring lemas sejak masuk rumah sakit, namun Ulama terkemuka itu tidak pernah melewatkan waktu salat. Ia begitu keras hati tidak mau bertayamum, dan minta di-wudhukan menggunakan lab basah oleh istri atau salah seorang anaknya. Ia mengerjakan sembahyang dalam keadaan terbaring, sementara berbagai pipa perawatan darurat terentang masuk kerongkongan dan lubang hidungnya.
Sejak masuk rumah sakit, Buya banyak tidur karena memang perawatannya harus demikian. Pada saat-saat terbangun, ia mencoba berbicara sedikit-sedikit dengan suara lemah terbata-bata. Kalau bukan menanyakan sudah masuk waktu salat atau belum, atau minta diwudhukan, biasanya menanyakan salah seorang anak atau menantu atau cucunya yang saat itu kebetulan tidak tampak olehnya. Lalu apa karamah yang diberikan Allah kepadanya ?. Buya tersenyum ketika meninggal. Lihat foto halaman 112 Buku Perjalanan Terakhir Buya Hamka.
Ada lagi kisah si mbok penjual jamu. Ia selalu dimintai tolong bila diantara tetangganya yang terkena suatu penyakit. Caranya?. Dengan memberi segelas air yang " diberi " doa. Ternyata mujarab. Suatu waktu si mbok itu mengunjungi seorang ulama, menanyakan ihwalnya. "Mungkin ibu suka melakukan amalan-amalan tertentu, yang dengan itu Allah berkenan menjadikan ibu sebagai jalan turunnya pertolongan-Nya. Coba ibu ingat-ingat" tanya ulama. "Sebenarnya semua amalan saya, saya rasa biasa-biasa saja sebagaimana muslimah-muslimah lainnya. Tetapi saya memang selalu berusaha sudah ada di masjid sepuluh menit sebelum azan dikumandangkan "ujarnya." Insya Allah, tampaknya amalan itulah yang membuat Allah suka terhadap ibu", lanjut sang ulama.
Oleh Allah kita disuruh bersedekah. Nampaknya perintah itu seakan-akan harus mengeluarkan harta yang telah susah payah dikumpulkan. Padahal justru dengan sedekah kita akan mendapat keuntungan yang berlipat ganda. Dengan sedekah akan tertolaklah bala dan musibah yang akan menimpa. Rejeki yang didapat pun benar-benar akan berlipat ganda. Bahkan, kalau kita menjadi ahli sedekah, maka Allah akan melembutkan hati orang-orang sehingga mereka pun akan menyayangi kita. Belum lagi Allah sendiri pun akan mencintai kita. Sementara uang yang kita sedekahkan pun ternyata titipan Allah juga. Jadi dimana letak ruginya kalau demikian ?
K.H.Abdullah Gymnastiar, menganjurkan agar kita istiqamah dalam bersedekah. Kata beliau jangan biarkan waktu subuh berlalu tanpa mengeluarkan sedekah. Karena saat malaikat mendoakan hamba-hamba Allah. Walau pun hanya sekeping uang logam ratusan, namun Allah Maha melihat keikhlasan kita beramal dan kesungguhan kita dalam menjaga sikap istiqamah. Sekiranya uang tidak ada, yang ada hanya makanan, sedekahkanlah. Pendek kata jangan sampai ada hari berlalu tanpa sedekah.
Sungguh teramat baik siapapun yang berusaha istiqamah dalam salat berjamaah. Bahkan akan jauh lebih baik lagi kalau istiqamah salat berjamaah di masjid. Kalau pun karena sesuatu hal tidak sampai di masjid paling tidak salat di rumah dengan mengajak anak, istri dan pembantu. Rasulullah SAW. bertanya kepada Jibril AS., "Apakah yang diperoleh umatku dalam salat berjamaah ?" Jibril AS. berkata, "Wahai Muhammad setiap rakaat yang dilakukan seseorang mukmin bersama imam jamaah lebih baik baginya dari pada bersedekah seratus ribu dinar kepada orang miskin, satu sujud yang ia lakukan bersama imam lebih baik daripada ibadah satu tahun. Tidak ada azab kubur dan kepedihan Hari Kiamat bagi orang yang menjalankan salat secara berjamaah".
Malam hari ketika sedang nyenyak-nyenyaknya tidur malah kita disuruh bangun untuk mendirikan salat tahajjud. Tidak tanggung-tanggung, sebelas rakaat lagi. Padahal pada sepertiga akhir malam itu justru merupakan saat pulas-pulasnya tidur karena nikmat dan dingin udaranya.
Masih banyak lagi, bentuk amalan yang ringan, tapi kalau mau dilaksanakan secara istiqamah, akan diberikan ganjaran pahala yang besar dan karamah yang sudah bisa dinikmati oleh si pengamalnya ketika ia masih hidup di dunia ini.
Oleh karena itu siapapun yang mampu istiqamah, konsisten dalam melakukan apa pun dari kiprah hidup kesehariannya hampir dapat dipastikan akan membuat orang-orang di sekelilingnya merasa suka dan bahkan segan terhadapnya. Itu baru dalam urusan dunia. Demikian pula dalam melaksanakan syariat agama. Betapa Allah amat menyukai hamba-Nya yang melakukan suatu amalan secara mudawwamah, dilakukan terus-menerus secara konsisten, kendati amalan itu amat ringan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar